dari . (Foto: Dokumen Pribadi)

Jumat, 27 November 1987, pukul 4 dini hari, Kelurahan Rempoa, Ciputat Timur, Tangsel  dikejutkan oleh kelahiran bayi kembar yang jarang terjadi. Kembar dua itu mungkin sudah biasa. Tapi sampai kembar tiga, itu sesuatu yang tidak biasa. Klinik Panti Nugraha Rempoa menjadi saksi atas peristiwa bersejarah itu. Pasangan suami istri H. Mohamad dan Hj. Halimah dianugerahi bayi kembar tiga dengan jenis kelamin perempuan.

Kembar Tiga dari Rempoa. (Foto: Dokumen Pribadi)

Karena faktor langka inilah, surat kabar Pos Kota sampai memberitakannya. Di surat kabar itu terpampang jelas foto tiga orang perawat menggendong bayi mungil kembar tiga itu. Rempoa benar-benar gempar saat itu. Kehadiran bayi kembar tiga itu dengan cepat menjadi buah bibir. Hampir semua berdecak kagum setengah tak percaya, bahwa ada bayi kembar tiga dan itu berada di Rempoa.

Sang ayah, H. Mohamad memberikan nama ketiga putri kembarnya itu dengan nama yang sangat simpel dan mudah diingat. Secara berurutan dari anak yang pertama yaitu Uni Zahra, Uli Zahra dan Upi Zahra. Sepertinya, hanya sang ayah yang tahu kenapa anaknya dinamakan demikian. Karena sang anak sampai besarpun tak pernah mengetahui, kenapa ayahnya memberinya nama tersebut. Padahal mereka adalah bersuku Betawi tetapi nama anaknya mirip nama orang Padang.

Kembar Tiga dari Rempoa.. (Foto: Dokumen Pribadi)

Mereka tumbuh menjadi bayi mungil yang menggemaskan. Layaknya bayi kembar pada umumnya. Baju mereka juga kembar. Menginjak usia balita. Kemiripan mereka sulit sekali dibedakan. Kecuali orangtua dan kakak kandung mereka. Beberapa saudara sepupu, Paman dan tante terkadang sering terkecoh oleh mereka bertiga.

Kembar Tiga dari Rempoa.. (Foto: Dokumen Pribadi)

Memasuki usia sekolah dasar, mereka bertiga bersekolah di MI. Nurul Islam dan menjadi pusat perhatian. Kawan-kawan mereka benar-benar menyaksikan sendiri tentang kabar bayi kembar tiga yang dulu pernah membuat heboh Rempoa. Perempuan kembar tiga itu kini adalah kawan mereka. Kawan bermain dan belajar. Uni, Uli, dan Upi dengan sangat mudah menjadi sosok yang sangat diingat oleh kawan-kawan mereka karena keunikannya itu.

Kembar Tiga dari Rempoa bersama Ibu mereka Almh. Hj. Halimah. (Foto: Dokumen Pribadi)

Keadaan saat SMP dan SMA pun tak jauh berbeda. Bersekolah di sekolah yang sama yaitu di Pondok Pesantren Al-Manar Al-Azhari Cinere, Depok. Mereka tetap menjadi pusat perhatian.  Karena kembar tiga itulah yang membuat mereka begitu dikenal oleh guru dan kawan-kawannya. Meski terkadang, guru dan kawan-kawannya juga sering terkecoh oleh mereka bertiga. Untuk mengambil jalan aman, para guru menyebut mereka dengan sebutan Zahra.

Saat kuliah, mereka terselamatkan. Mereka memang di satu Universitas yaitu UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tetapi berbeda fakultas. Kawan-kawan kuliah mereka tidak seterkejut kawan-kawannya yang dahulu. Walaupun efek kejutnya tetap sama saat mereka menceritakan bahwa mereka itu kembar tiga. Bahkan pernah kejadian, saat salah satu diantara mereka dianggap sombong karena saat ditegur di sebuah tempat tetapi diam saja.

Kembar Tiga dari Rempoa.. (Foto: Dokumen Pribadi)

Kini mereka sudah bersuami. Untungnya suami mereka bisa membedakan istrinya masing-masing. Mungkin bagi yang jarang bertemu dengan mereka bertiga. Sangat sulit untuk membedakannya. Tetapi bagi yang sudah sering bertemu, pasti bisa membedakannya. Apasih suka duka jadi kembar tiga? Berikut ini adalah jawaban dari Uni, Uli dan Upi Zahra.

Uli Zahra (Foto : Dokumen Pribadi)

Uli Zahra:

Sukanya,,, ada temen cerita. Temen curhat. Temen berbagi. Temen jalan. Temen pinjem pakaian. Temen pinjem duit.

Dukanya,, sakit satu sakit semua. Waktu kecil sampe kuliah suka bertengkar. Gara2 jarang bantu bebenah di rumah mamah .

 

 

 

Upi Zahra (Foto: Dokumen Pribadi)

Upi Zahra:

Sukanya:

  1. Excited jd bagian dr kembar , Alhamdulillah..
  2. Bisa kongkow bareng, curhat bareng, saling pinjam pakaian.
  3. Klo berantem (selisih paham) gak pernah lama, abis itu baikan..
  4. Bikin orang bingung
  5. Ngusilin/ngerjain orang
  6. Ada rasa (ngebatin) yg sama
  7. Ada bbrp kesukaan yg sama (pakaian, makanan, minuman, bahkan tmpt kongkow, dll)

 

Dukanya:

  1. Jd perbandingan antara kembar yg 1 dgn yg lainnya .
  2. Selisih paham (berantem) .
  3. Gak ada yg mo ngalah.
  4. Takut orang salah mengira .
  5. Klo yg 1 sakit pasti yg lain hrs hati2 siap2 jaga kesehatan, sebab ngebatin (pasti gantian)
  6. Gak mau pisah jauh2, atau terlalu lama, pst seperti ada yg kurang atau hilang..

 

Uni Zahra (Foto: Dokumentasi Pribadi)

Uni Zahra :

” Aku sangat senang dan bahagia sekali punya kembaran. Seru banget! Semua orang sampe takjub gitu pas tau aku punya kembaran dua orang. Kalau dukanya sih, kayaknya gak ada deh! Hepi terus bawaannya. Yah palingan berantem beda pendapat gitu. Tapi gak lama kok. Hari ini bete-betean, hari ini juga akur lagi”

Aku punya puisi untuk kembaranku:
Tidak ada duka yg ku rasakan…
Hanya suka dan bahagia yg terpancarkan
Rasa syukur yg begitu dalam ku haturkan
Memohon agar kami selalu diakurkan
Mamah, abi.. Trmksh untuk semua kebahagiaan yg kau berikan
Untuk semua pelajaran kehidupan yg kau ajarkan
Tanpa kalian, kami tetap hidup dalam keluarga yg membanggakan
Bersama kakak-kakak hebat yg begitu mencintai dg beribu pengorbanan
Tuhan, rangkul mamah dan abi dalam peluk kebahagiaan
Karena mereka pantas mendapatkan surga cinta yg dirindukan…

(NSR/Elang News)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here