Rocky Gerung bilang, pabrik hoax adanya di pusat kekuasaan. Tadinya saya hampir percaya. Tapi karena pusat kekuasaan hampir setiap hari memerangi, mengimbau, dan mendemonstrasikan anti hoax, saya menjadi kurang yakin dengan ucapan RG.

Tapi keyakinan itu muncul kembali ketika kantor cabang hoax menebarkan hoax secara sistematis. Isu terbaru datang dari kepala kantor cabang, Denny Siregar yang katanya menyebarkan hoax seputar penganiayaan suporter Persija oleh oknum suporter Persib. Beritanya bokan hoax. Tapi kicauan Desi katanya di tengah penganiayaan biadab itu ada yang menyuarakan kalimat tauhid.

Ada yang membuktikan video aslinya tidak ada kalimat tauhid. ada yang bilang, video yang ada kalimat tauhidnya adalah editan. Entahlah. Kalaupun misalnya ada orang mengucapkan kalimat “La illaha illallah..” bisa saja itu ungkapan keprihatinan pada kebiadaban yang dia saksikan di depan matanya. Istgihfar dan tahlil biasa diucapkan saat melihat musibah. Hoaxnya, Denny menghubungkannya dengan isu SARA.

Polisi bilang, tidak ada kalimat tauhid dalam pengeroyokan itu. Tererah deh, mau percaya sama polisi atau Denny Siregar.

Pola hoaxnya hampir sama. Memanfaatkan kemarahan publik atas tindakan biadab, lalu mengarahkan kemarahan itu ke kelompok yang tidak disukainya. Masih ingat ketika teror melanda ibu kota dan beberapa kota besar? Kemarahan publik terhadap terorisme dimanfaatkan, diarahkan oleh kantor cabang hoax untuk membenci PKS yang dituduh sebagai parpol pro teroris.

Kantor cabang hoax paham betul. Kemarahan publik mudah diarahkan, karena kemarahan menenggelamkan akal. Coba sisakan sedikit akal. Apa urusannya penganiayaan suporter sepak bola dengan kalimat tauhid? Sungguh tidak masuk akal. Perseteruan Jak mania dengan Bobotoh bukan cerita baru, dan tidak ada sekalipun teriakan kalimat tauhid.

Coba sisakan sedikit akal. PKS sebelumnya PK sudah beberapa kali ikut pemilu. Anggota DPR, DPRD, MPR dari fraksi PKS silih berganti duduk di parlemen. Apakah KPU dan pemerintah sengaja memberi jalan parpol dan anggota parlemen yang pro teroris? Tentu saja tidak.

Kantor cabang hoax lain belum lama ini menyebarkan hoax, menghubungkan Ketua Umum GNPF (Gerakan Nasional Pengawal Fatwa) Ulama, Yusuf Muhammad Martak dengan kasus lumpur Lapindo. Hoax ini muncul setelah Martak sukses menyelenggarakan Ijtima Ulama jilid 2 yang memberikan dukungan pada Prabowo –Sandi. Pak Martak sudah membantahnya panjang lebar.

Sebelumnya, kantorcabang hoax yang lian lagi, menyebarkan isu #2019ganti presiden pro khilafah, ditunggangi HTI. Kepala kantor cabang hoax Desi memuat foto Abu Jibril Abdurahman yang disebutnya sebagai penanda tangan deklararasi ganti presiden, padahal yang menandatangani adalah Abu Jibril Fuad. Bukan cuma beda orang, tapi juga beda madzhab.

Sebelumnya lagi, tersebar foto baliho/spanduk ganpres yang pro khilafah, ingin mengganti dasar negara, tersebar di sejumlah pinggir jalan. Entah siapa yang memasang baliho itu. Spanduk itu belum pernah sekali pun terlihat di sejumlah acara deklarasi ganti presiden. Juga tidak pernah terucap oleh para orator ganpres.

Saat Ijtima ulama jilid 2, ada juga baliho yang dari ukuran dan bentuknya tidak terlalu meyakinkan, berisi tulisan dukungan pada ijtima ulama yang akan mengganti dasar negara. Mestinya pihak keamanan dengan mudah mengetahui siapa pemasang baliho itu karena di sekitar itu ada CCTV. Tapi sampai sekarang tidak ada satu pun pihak yang mengakui.

Mungkin ada yang berpikir, berani menulis tapi tidak berani mengakui. Pertanyaannya, pesan dalam baliho kan untuk mengajak, memberi dukungan, dan semacamnya. Kalau tidak ada yang mengakui, untuk apa ajakan dan dukungan itu?

Belum lagi tuduhan keji terhadap deklarator ganpres, Mardani Ali Sera yang diisukan selingkuh dengan Neno Warisman lengkap dengan editan foto keduanya sedang bermesraan. Coba perhatikan, siapa yang menyebarkan sejumlah hoax itu? Mereka yang selalu berteriak anti hoax!

Bukan cuma hoax, nyinyiran yang nggak masuk akal sehat juga datang dari kantor cabang pabrik nyinyir. Terbaru, nyinyiran pada kata adil dan makmur yang disebutnya sebagai kata jadul. Padahal hampir setiap hari yang nyinyir itu beteriak soal pancasila. Kata adil terdapat dalam pancasila.

Barangkali anggapan keadilan itu kuno ada hubungannya dengan cepat terungkapnya penyebar hoax demo di MK, tapi hoax yang diproduksi oleh kantor cabang hoax sulit terungkap. Keadilan seolah tidak lagi dianggap penting. Kaleeee…

Netizen Balya Nur

Berita Detik: Kalimat Tauhid di Video Pengeroyokan Haringga Hoax

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here