EXPEDISI RATUBOKO

Elangnews – Jakarta, 28 April 2018, hari Sabtu. Ngga biasanya macet. Ternyata ada acara bagi-bagi sembako di Monas.

Expedisi “Ratuboko” dimulai. Tadinya, expedisi ini bernama “Expedisi Barabadur”. Tapi Maya Suharnoko ngusulin nama “Ratuboko”. Alasannya; lebih serem.

Maya lantas cerita soal Candi Sukuh di lereng Gunung Lawu. Katanya, dahulu di Candi ini ada ritus pengorbanan manusia. Mirip ritus di reruntuhan megalit mesoamerica Teotihuacan.

Ternyata, “Candi Ratuboko” ada di Jogja. Bukan di Jawa Tengah. Nama expedisi terlanjur dipatenkan. Maya ngeles. Seperti Bajaj. Ratuboko adalah ayah Lara Jonggrang. Prasasti Abhayagiriwihara bertahun 792 AD ditemukan di candi ini. Diasumsikan Candi Ratuboko dibangun oleh Rakai Panangkaran.

Ah, akhirnya aku bisa keluar. Jakarta is a great city. Sekarang ia tenang, lebih bersih dan manusiawi.

Tapi aku penat. Sendi mendua. Akhirnya dia nikah dengan her schoolmate. Setelah dua tahun, aku baru tau makna lagu “Bogoshipda”. Ternyata itu soal cewe yang punya dua pacar. Pantes dia dedikasikan lagu itu untuk aku.

Lantas Ahok merusuh. Picu aksi jutaan massa. Jakarta jadi tegang. Pilkada seru. Medsos heboh. Ketegangan tak pernah surut. Anies-Sandi menak telak. Setelah mereka dilantik, Ahoker belum stop. Mereka bikin gaduh.

So I need fresh air. Tol Cipali lancar. Tancap gas. Setelah magrib, aku keluar exit Pejagan. Brebes, here I come.

Pilkada serentak pecah di 171 wilayah. Tidak ada spanduk-spanduk paslon. Sepi. Toko-toko telur asin di kiri-kanan. Akhirnya, aku sampai di penginapan.

Teman-teman Aai Sambas dan Radith berdatangan. Mereka ngumpul di pojok lobby hotel. Tanpa aircon. Kepulan asap Rokok menyeruak. Aku curi-curi dengar. Mereka bicara seputar pilkada Jawa Tengah.

Ada pemuda berpeci bawa surat keterangan (suket) KTP. Namanya Agus. Dia ngeluh blangko e-KTP ngga kelar. Sepintas, tampaknya Jawa Tengah bakal punya gubernur baru.

Agus melanjutkan, “Jalanan baru dibenerin jelang pilgub. Dikiranya masyarakat bodoh.”

Seorang pemuda milenial cerita bahwa black campaign terhadap Sudirman Said tidak laku di masyarakat. Warga Slatri malah bilang “masa Dirman dituduh antek Yahudi. Yahudi dari mana? Bodoh banget yang bikin.”

Masyarakat sempat kaget dengan beredarnya spanduk khilafah. Kali ini PKS dan Sudirman Said jadi target fitnah. Warga ngga percaya. Mereka bilang, “Dirman wong dewek.”

Tampaknya masyarakat Jawa Tengah mau perubahan. Mereka berhak sejahtera. Solusinya; Ganti Gubernur. Progres macam ini tidak bisa dibendung. Mereka harus memutuskan. Aku yakin mereka tau siapa yang lebih baik.

Seperti kata Penulis Ashleigh Brilliant, “You can’t stop progress, but you can help decide what is progress and what isn’t.”

Beryl Ammanya,
Brebes, 29 April 2018

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here