Sihir Rhoma Irama Dengan Kritiknya

Elangnews – Pedangdut Rhoma Irama membawa formasi Soneta grup menggelar konser bertajuk “Salam Dua Jari”. Konser yang digelar Senin (23/4/2018) ini di Lapangan Butuh, Kecamatan Tegalrejo Kabupaten Magelang mampu menyedot puluhan ribu penonton.

Hadirnya Rhoma Irama tak lepas dari peran pengasuh pondok pesantren API, KH Yusuf Chudlori. Kyai muda seniman ini mendatangkan Soneta grup untuk menyambut kampanye pasangan calon gubernur-wakil gubernur Sudirman Said-Ida Fauziah. Sebelumnya, Gus Yusuf memang sering mendatangkan artis nasional dengan fans sangat besar semacam Ungu, Letto dan lain-lain dalam pengajian rutinnya.

“Seluruh harta kekayaan negara, hanyalah untuk kemakmuran rakyatnya, namun hatiku selalu bertanya-tanya, mengapa kehidupan tidak merata,” Sudirman Said berteriak mencoba mengimbangi iringan Soneta.

“Yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin, yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin,” Rhoma Irama yang kemudian meneruskan lyric kritik sosial itu. Tentu saja fans Rhoma mengikuti sehingga di seluruh lapangan bergema protes sekian puluh tahun lalu, yang ternyata masih relevan ini.

Seperti biasanya, Rhoma Irama juga memberi wejangan. Seperti menepis isu bahwa Sudirman Said dan partai pendukungnya hendak menggunakan strategi SARA di Jawa Tengah, Rhoma Irama justru meminta masyarakat menghindari sikap intoleransi.

“Menjaga ukhuwah Islamiyah itu penting. Menempatkan persatuan dan kesatuan bangsa juga sangat penting. Dan yang utama tetap dalam koridor Pancasila dan kebhinekaan,” kata Rhoma.

Menurut Rhoma, tahun 2018 sejumlah daerah di Indonesia menggelar pilkada. Jateng salah satunya. Karenanya ia meminta agar kegembiraan memilih pemimpin jangan dikorbankan dengan bersikap intoleran, anti persatuan dan anti keberagaman.

“Rukun, rukun, dan rukun,” kata Rhoma.

Orasi ini mengundang gemuruh penonton. Yang kemudian disambut pesan melalui lagu “Adu Domba”.

Puncak konser Rhoma Irama adalah ketika bernyanyi bersama Sudirman Said dan Ida Fauziyah. Lagu “Kata Pujangga” mampu menebar sihir di guyuran air hujan.

“Hidup tanpa cinta bagai taman tak berbunga, hai begitulah kata para pujangga, hidup tanpa cinta bagai taman tak berbunga, hai begitulah kata para pujangga, aduhai begitulah para pujangga, taman suram tanpa bunga,” demikian Sudirman Said berdendang.

Selain ribuan masyarakat yang terus berdatangan, bahkan ketika konser hendak berakhir, warga masih mendatangi lapangan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here