Mboten Korupsi, Mboten Ngapusi

 

Elangnews  – Negeri ini memang membutuhkan pemimpin yang memiliki sifat dan sikap tidak korupsi dan jauh dari pencitraan diri/tidak berbohong.

Hanya saja, ketika kalimat “mboten korupsi, mboten ngapusi” keluar dari mulut Ganjar Pranowo, mengingat namanya yang terseret dalam kasus korupsi E-KTP dan Jawa Tengah yang stagnan dalam lima tahun kepemimpinannya, sangat terasa ketidaktulusannya.

Mboten Korupsi/Tidak Korupsi

Kasus mega korupsi E-KTP telah menyeret nama Ganjar Pranowo. Nazarudin adalah orang pertama yang menyebutkan keterlibatan Ganjar dalam korupsi E-KTP. kala itu, Ganjar berdalih bagaimana mungkin hanya karena satu orang yang menyebut nama dirinya dapat dijadikan alat bukti keterlibatannya.

Nama Ganjar Pranowo semakin sering disebut/muncul dalam kasus korupsi E-KTP, tersangka lainnya seperti Irman, Sugiharto, Andi Naragog dan terbaru setya novanto, mereka menyebut ada keterlibatan Ganjar dalam kasus korupsi E-KTP. Kali ini, Ganjar berdalih bahwa semakin banyak orang yang menyeret namaya semakin bagus untuknya karena itu akan menunjukkan kebenarannya apakah si A atau si B pemberi dan penerimanya. Ganjar pun memyatakan akan berjihad untuk melawan mereka yang telah memfitnah dirinya.

Untuk meyakinkan publik, Ganjar meminta mereka untuk melihat selama lima tahun kepemimpinannya di Jawa Tengah apakah pernah terdengan dia terlibat kasus korupsi. Dan, dia. Pun membanggakan dengan tiga tahun berturut-turut mendapatkan penghargaan dari KPK, jadi tidak mungkin baginya terlibat kasus korupsi.

Tidak akan ada asap bila tidak ada api.

Benarkan dalam lima tahun kepemimpinannya, Ganjar Pranowo tidak ada indikasi korupsi di dalam pemerintahannya?.

Bercermin pada kepemimpinan Ahok di Jakarta, dengan lantang Ahok memproklamirkan diri sebagai pemimpin yang bersih (tidak korupsi). Namun ketika terjadi pergantian kepemimpinan, borok Ahok mulai terungkap, Ahok pun terindikasi terlibat kasus korupsi. Hal itu dapat pula terjadi pada Jawa Tengah.

Mboten Ngapusi/Tidak Berbohong

Pencitraan diri menjadi ciri khas dari kepemimpian Ganjar Pranowo. Marah-marah di jembatan timbang karena adanya pungli yang sebesar 10-20 ribu rupiah, Ganjar Pranowo muncul sebagai sosok gubernur anti pungli/korupsi. Sayangnya, prestasi penuh pencitraan diri itu tidak diikuti dengan kenaikan pendapatan melainkan penurunan pendapatan.

Kasus sengketa petani kendeng dengan semen indonesia membuktikan bahwa Ganjar adalah orang yang sangat suka mempermainkan rakyat jelata. Berbagai cara dilakukan oleh Ganjar untuk melawan putusan MK yang memenangkan petani demi kepentingan investor.

Ketidakharmonisan hubungan Ganjar Pranowo dengan buruh yang dikarenakan Ganjar tetap mempertahankan upah murah, menjadi bukti bahwa Ganjar adalah pemimpin yang tidak mampu membela kepentingan rakyat kecil.

“Mboten korupsi, mboten ngapusi” seharusnya Ganjar merasa malu dengan kalimat tersebut.

Dalam lima tahun kepemimpinannya Ganjar tak mampu membawa Jawa Tengah menjadi lebih sejahtera. Dalam lima tahun kepemimpinannya Ganjar hanya dapat memihak investor dibandingkan kepentingan rakyat kecil.

Dalam lima tahun kepemimpinannya, Jawa Tengah masih berada dalam wilayah darurat korupsi. Dalam lima tahun kepemimpinannya yang diberikan olehnya untuk Jawa Tengah hanyalah sebuah pencitraan diri untuk menutupi kegagalannya.

Awal Yang Baru

Pilkada 2018 menjadi titik awal yang baru bagi Jawa Tengah. Ganjar Pranowo telah gagal dalam memimpin Jawa Tengah. Kini saatnya rakyat Jawa Tengah memilih pemimpin baru yang mampu membawa Jawa Tengah menjadi lebih sejahtera. Memberanikan diri, menapaki kehidupan baru yang lebih baik bersama pemimpin yang baru.

Sudirman said untuk Jawa Tengah yang lebih baik dan sejahtera.

Budi prastiwi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here