MENGENAL KETURUNAN AHLUL BAIT NABI DARI JALUR SAYYIDINA HASAN RA DI INDONESIA DAN HUBUNGANNYA DENGAN PARA SYARIF MAKKAH (1201 M – 1924 M)

Tidak banyak yang mengetahui kalau di bumi Asia Tenggara khususnya Indonesia telah banyak keturunan Sayyidina Hasan RA yang menyebar, terutama dalam rangka melakukan dakwah Islamiah. Selama ini mungkin kita lebih banyak mengetahui bahwa yang paling dominan penyebaran ahlul baitnya adalah dari jalur Sayyidina Husein RA, dari mulai generasi Sayyid Husein Jamaluddin Al Akbar (abad ke 13 M), disusul generasi Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ampel, Sunan Giri (abad ke 15. Setelah era Walisongo berlalu sekitar 100 – 150 tahun kemudian muncul keluarga Basyaiban yang mengikuti jejak saudara senasabnya tersebut (Bani Abdul Malik Azmatkhan).

Penyebaran masih terus berlanjut setelah beberapa tahun kemudian telah banyak keluarga Alawiyyin lainnya yang berdatangan ke berbagai daerah seperti Palembang, Pontianak, Siak, Jambi, Aceh, Madura, Jayakarta, dll. Kedatangan ahlul bait itu mencapai puncaknya setelah terusan suez dibuka. Tidak heran pada masa tahun 1850 – 1920an populasi keluarga ahlul bait khususnya keluarga Alawiyyin telah banyak memenuhi wilayah-wilayah Nusantara. Begitu banyak jumlah ahlul bait sampai-sampai fihak penjajah sangat mengkhawatirkan keberadaan mereka, hingga akhirnya mereka menugaskan Ven Der Berg untuk meneliti lebih dalam lagi tentang sejarah keluarga besar Alawiyyin ini, bahkan dia sendiri sampai harus datang ke Hadramaut.

Dari penelitian inilah Belanda kemudian menyusun strategi unruk memisahkan antara Ahlul Bait dengan penduduk setempat, tidak jarang divide et impera dilakukan Belanda. Sayangnya walaupun Belanda berusaha meniadakan keberadaan peran ahlul bait, masyarakat justru semakin bertambah erat hubungannya, hal ini mungkin tidak terlepas dari peran ahlul bait yang sebelumnya yang sudah menanamkan pondasi keagamaan yang kuat.

Selain dakwah mereka para ahlul bait telah juga banyak melakukan sumbangsih yang berharga pada beberapa kesultanan Nusantara baik itu pada bidang diplomatik, sosial, ekonomi, budaya, politik juga bidang-bidang kehidupan lainnya. Tidak itu saja banyak dari mereka yang nantinya mampu menjadi tuan Rumah di negeri-negeri yang mereka datangi. Sejarah membuktikan banyak negara-negara Islam yang dibentuk tidak lepas dari peran ahlùl bait.

Keberadaan keturunan Sayyidina Hasan RA sendiri nampaknya memang jarang diungkap. Tidak diungkapnya keberadaan mereka secara terbuka mungkin salah satunya karena faktor sejarah masa lalu, dimana memang keberadaan ahlul bait selalu diincar dan diburu ataupun difitnah dikarenakan peran sentral mereka dalam kehidupan bernegara dan berbangsa. Pengaruh mereka sejak dulu memang sangat besar di tengah masyarakat.

Berbagai dinasti Islam boleh berganti, namun peran ahlul bait sepertinya sulit tergantikan terutama pada masalah keagamaan. Para penguasa muslim khususnya para khalifah dari berbagai dinasti boleh saja kekuasaannya besar dan luas, namun untuk masalah pengaruh dan karismatik sepertinya para ahlul bait masih dalam posisi yang cukup kuat bilà dibandingkan penguasa besaŕ Islam.

Menyebarnya para ahlul bait di Indonesia ataupun di Asia Tenggara, sebenarnya juga tidak lepas dari peran serta keluarga Syarif Makkah yang notabenenya adalah keturunan Ahlul Bait dari jalur Sayyidina Hasan RA. Melalui peran serta mereka iniah ahlul bait bisa menjelajah ke banyak negara. Sebagai sebuah kota suci ummat Islam di dunia tentu akan banyak bangsa berdatangan. Dan sudah tentu kedatangan mereka selain berhaji, mereka juga akan banyak berhubungan dengan para ulama dan juga para Syarif Mekkah yang memang rata-rata mereka ahli dalam bidang keagamaan.

Para Syarif Mekkah sendiri dalam sejarahnya muncul pada tahun 1201 Masehi dibawah cabang keluarga Al Qitadah Al Hasani dan baru berakhir pada tahun 1924 Masehi setelah direbut oleh Ibnu Sa’ud yang bekerjasama dengan Kerajaan Inggris. Sebenarnya Mekkah sendiri pada 100 tahun sebelum tahun 1201 Masehi pernah juga dipimpin oleh seseorang yang bernama Sayyid Jafar bin Muhammad Al Hasani dan seterusnya hingga berakhir tahun 1200 Masehi. Dikarenakan lemahnya pemerintahan ahlul bait yang sebelumnya maka salah seorang ketua Qabilah dari Ahlul Bait yang bernama Qitadah yang merupakan penguasa kota Yanbu di Barat Madinah telah mengambil alih. Beliau berusia 70 tahun. Dari beliau inilah kemudian para Syarif Mekkah muncul.

Adapun nasab beliau sendiri adalah berikut :

1. Sayyidina Rasulullah SAW.
2. Fatimah binti
3. Al Hasan
4. Hasan Mutsanna
5. Abdullah
6. Musa Al Jaun
7. Abdullah
8. Musa
9. Muhammad
10. Abdullah
11. Muhammad
12. Abdullah
13. Ali
14. Sulaiman
15. Husein
16. Isa
17. Abdul Karim
18. Muta’in
19. Idris
20. Qitadah

Pada masa itu Para Syarif Mekkah adalah penguasa negara bagian dari dinasti-dinasti besar Islam yang datang silih berganti. Dahulu yang memilih wali-wali Mekkah adalah khalifah Islam, namun setelah era Dinasti Qitadah ini pemilihan wali-wali Mekkah yang bergelar Syarif berlaku secara turun temurun dan baru berakhir tahun 1924 Masehi setelah direbut paksa oleh Ibnu Sa’ud yang dibantu fihak kerajaan Inggris, fihak Ibnu Sa’ud sendiri ataupun kaum Sa’udiyah sudah lama mengincar kekuaasaan Syarif Mekkah ini.

Hampir 300 tahun mereka menunggu dengan sabar, namun mereka baru berhasil setelah jatuhnya Kesultanan Turki Usmani yang merupakan pelindung kota suci Mekkah dan Madinah. Sejak tahun 1924 M inilah kekuasaan Syarif Mekkah berhasil dikuasai Ibnu Sa’ud dan keturunanya hingga hari ini. Setelah tidak berkuasa Syarif Mekkah dan keturunannya harus keluar dari negeri yang selama 700 tahun mereka telah tempati setelah Kaum Sa’udiyah mengambil kekuasaan mereka.

Syarif Husein yang merupakan Syarif terakhir Mekkah akhirnya menyerah dan tersingkir dari kedudukannya sebagai wali kota Mekkah. Dua orang anaknya pun dengan berat hati harus keluar dari Mekkah, yaitu mereka adalah Abdullan dan Faisal. Tidak lama karena adanya kesepakatan beberapa fihak Abdullah menjadi raja di Yordania sedangkan Faisal menjadi Raja di Irak. Abdullah kemudian menurunkan Raja Talal kemudian dilanjutkan lagi kepada Raja Husein dan yang sekarang ini adalah Raja Abdullah II, sedangkan Faisal yang telah menjadi Raja Irak 1 kedudukannya dilanjutkan oleh Raja Ghazi I dan baru berakhir pada masa Raja Faisal II pada tahun 1958 setelah sebelumnya dikudeta hingga akhirnya beliau terbunuh.

Kedua negara tersebut yaitu Yordania dan Irak pada masa itu merupakan kota yang gersang dan miskin penduduknya, penghasilan devisa negaranya tidak sebaik Mekkah dan Madinah. Namun sejarah membuktikan hingga hari ini Kerajaan Yordania masih eksis, sedangkan Irak sampai saat ini masih belum pasti kondisinya.

Selama 700 tahun para Syarif Mekkah berkuasa, mereka diberikan hak otonomi khusus oleh para dinasti Islam. Pengaruh mereka memang sangat luas dan besar. Sekalipun mereka hanya menjaga dua kota suci namun banyak penguasa-penguasa muslim dunia sering meminta restu kepada para Syarif Mekkah tersebut sebelum dilantik menjadi penguasa, tidak lengkap dan tidak afdol rasanya jika para penguasa muslim tersebut belum bertemu dan mendapat restu dari para Syarif Mekkah ini.

Selain memberi restu kepada para penguasa muslim yang banyak diwakili oleh kesultanan-kesultanan Islam tersebut, para Syarif Mekkah juga mempunyai peran yang sangat besar dalam membuka jalur dakwah keluarga besar ahlul bait ke seluruh dunia termasuk pula Indonesia. Dari mulai Kesultanan Pasai, Kesultanan Malaka, hingga Kesultanan Mataram semua tidak lepas hubungannya dengan Syarif Mekkah, belum lagi Kesultanan yang ada di Asia Tenggara lainnya. Tidak mengherankan sejak munculnya dinasti Qitadah sampai dengan tahun 1924 Masehi hubungan Syarif Mekkah dengan bangsa Indonesia ini sudah sangat erat bahkan sudah seperti keluarga sendiri.

Para Syarif Mekkah pada masa lalu benar-benar telah berhasil menjadikan Mekkah sebagai pusat kegiatan ruhani ummat sedunia. Mereka mampu membuka mata para pendakwah Islam dan ulamanya untuk melakukan dakwah Islamiah ke segala penjuru dunia. Peran mereka sungguh mulia dalam memberikan naungan, perlindungan maupun sumbangan dalam dakwah Islamiah. Mereka pula yang berjasa dalam menyebarkan Mazhab Syafii melalui jasa para ulama-ulama keturunan Ahlul Bait. Sampai saat ini hampir di seluruh wilayah Asia Tenggara masih bertahan baik dengan Mazhab Syafi’, sebuah mazhab yang dekat dengan ahlul bait mengingat leluhur Imam Syafi’i juga berasal dari suku Quraish.

Para ulama besar kita dahulu juga sering mendapat kedudukan terhormat dari para Syarif Mekkah, selain ulama para santri Indonesia (dahulu disebut orang Jawi) banyak yang kehidupan perekonomiannya diperhatikan oleh para Syarif Mekkah ini. Para Syarif Mekkah benar-benar sudah seperti orang tua bagi-santri santri dari negeri Jawi.

Oleh karena itu tidaklah mengherankan sekalipun era Syarif Mekkah telah berakhir tahun 1924 Masehi, hubungan ruhani dengan keluarga besar Al Hasani masih terus terjalin yang salah satunya adalah dengan banyaknya santri yang belajar kepada Keluarga Besar Al Maliki Al Idris Al Hasani. 3 generasi dari keluarga Al Maliki yaitu Abuya Sayyid Alwi Al Maliki, Abuya Sayyid Muhammad Al Maliki hingga kepada generasi yang sekarang yaitu Abuya Sayyid Ahmad Al Maliki, juga Sayyid Abbas Al Maliki, kesemuanya telah memegang peranan penting dalam perkembangan dan pemikiran Islam di Indonesia.

Berkaca pada dari keterangan diatas ini tidaklah mengherankan jika di kemudian hari hubungan ini terus berlanjut dalam bentuk datangnya para keturunan Ahlul Bait dalam rangka menjalin ukhuwah Islamiah dan juga dakwah Islamiah ke berbagai wilayah Nusantara khususnya Indonesia.
Secara umum keturunan Sayyidina Hasan RA jika dilihat secara nasab adalah sebagai berikut :

1. Sayidina Muhammad Rasulullah SAW
2. Sayyidah Fatimah Az Zahra
3. Sayyidina Hasan Asshibti

Sayyidina Hasan RA mempunyai dua orang anak yaitu :

1. Sayyidina Hasan Mutsanna, yang nanti menurunkan dinasti :

a. Syarif Syarif Tabaristan
b. Imam Imam Yaman
c. Syarif Syarif BUS Magribi
d. Syarif Syarif Maghribi
e. Bani Ukhaidr (penguasa Mekkah)
f. Syarif-Syarif Mekkah (hingga tahun 1924 Masehi)
g. Dinasti Dinssti Hamudah & Idrisiah
h. Raja Yordan dan Raja Irak

2. Sayyidina Zaid Al Ablaj yan g nanti menurunkan Abu Muhammad Hasan Penguasa Madinah zaman Khalifah Al Mansur

Dari Keluarga Al Hasani ini kelak akan banyak muncul ulama-ulama dan wali-wali besar yang menjadi rujukan ummat sedunia yang diantaranya :

1. Al Imam Idris Al Akbar bin Abdullah Al Kamil Al Hasani
2. Syekh Abdul Qodir Al Jailani Al Hasani
3. Syekh Muhammad Saman bin Abdul Karim Al Hasani Al Madani
4. Syekh Abu Hasan Assyadzili Al Hasani
5. Syekh Abdul Qodir Al Jazairi Al Hasani
6. Sayyid Muhammad bin Ali As Sanusi Al Hasani (Libya)
7. Sayyid Alwi bin Abbas Al Maliki Al Hasani
8. Sayyid Muhammad bin Alwi Al Maliki Al Hasani
9. Sayyid Abul Hasan Al Hasani An Nadwi
10. Sayyid Abdullah bin Muhammad Soleh Az-Zawawi Al Hasani (Mufti Syafiiyah Mekkah)
11. Syaikh Sa’d al-Dîn Al-Jabbawi Al-Syaibani Al-Idrisi Al-Hasani (Pendiri Tarekat Sa’diyah)
12. Sayyid Soleh bin Abdurrahman bin Abubakar bin Abdurrahman bin Ahmad Az-Zawawi al-Hasani
13. Sayyid Fakhruddin Bin Abd ‘All al-Hasani (1326H)
14. Sayyid ‘Abd al-Hayy Bin Fakhruddin al-Hasanf (1341H)
15. Sayyid Abdul Kahfi Al awal Al Hasani (Sayyid Ishom) bin Sayyid Abdurrasyid Kebumen Jawa Tengah
16. Dll.

Sedangkan diantara FAM yang telah kami pelajari terdapatlah beberapa nama dari keturunan Sayyidina Hasan RA yang telah berhijrah ke negeri kita jugà beberapa negeri lain yang diantaranya adalah :

1. Keluarga dari Fam Al Hasni : Banyak terdapat di Indonesia Timur
2. Keluarga dari Fam Abu Numay Al Hasani I (Al Awal) : Berasal dari nama Syarif Muhammad (Abu Numay Al Awal) bin Syarif Saad Al Hasan bin Syarif Ali bin Qitadah bin Idris Al Hasani. Dari sini juga nanti akan menurunkan raja-raja di Tunisia dan Libya.
3. Keluarga dari Fam An-Nawawi : ini adalah nama lain dari Abu Numay Al Hasani
4. Keluarga dari Fam Al Jawadi : ini adalah keturunan dari Syarit Muhammad (Syari Abu Numay 2 (Tsani) bin Syarif Barakat bin Syarif Muhammad bin Syarif Barakat bin Syarif Al Hasan bin Syarif Ajlan bin Syarif Syarif Rumaitsah bin Syarif Muhammad (Abi Numay Al Awal) bin Syarif Saad Al Hasan bin Syarif Ali bin Qitadah bin Idris Al Hasani.
5. Keluarga dari Fam Al Barakati : ini adalah keturunan dari Syarit Muhammad (Syari Abu Numay 2 (Tsani) bin Syarif Barakat bin Syarif Muhammad bin Syarif Barakat bin Syarif Al Hasan bin Syarif Ajlan bin Syarif Syarif Rumaitsah bin Syarif Muhammad (Abi Numay Al Awal) bin Syarif Saad Al Hasan bin Syarif Ali bin Qitadah bin Idris Al Hasani.
6. Keluarga dari Fam Al Sanbari : ini adalah keturunan dari Syarit Muhammad (Syari Abu Numay 2 (Tsani) bin Syarif Barakat bin Syarif Muhammad bin Syarif Barakat bin Syarif Al Hasan bin Syarif Ajlan bin Syarif Syarif Rumaitsah bin Syarif Muhammad (Abi Numay Al Awal) bin Syarif Saad Al Hasan bin Syarif Ali bin Qitadah bin Idris Al Hasani.
7. Keluarga dari Fam Al Mun’ami : ini adalah keturunan dari Syarit Muhammad (Syari Abu Numay 2 (Tsani) bin Syarif Barakat bin Syarif Muhammad bin Syarif Barakat bin Syarif Al Hasan bin Syarif Ajlan bin Syarif Syarif Rumaitsah bin Syarif Muhammad (Abi Numay Al Awal) bin Syarif Saad Al Hasan bin Syarif Ali bin Qitadah bin Idris Al Hasani.
8. Keluarga dari Fam Al Anggawi Abu Numay Al Hasani : gelar ini diberikan kepada keturunan Angga An Nawawi Al Hasani bin Wabir bin Athif bin Abi Daij bin Amir Syarif Mekkah Muhammad Abu Numay bin Syarif Ali bin Syarif bin Qitadah Al Hasani. Lahir tahun 852 Hijriah di Mekkah seorang yang hafal Qur’an dan ahli ibadah. Keluarga Fam ini banyak terdapat di Madura, Pekalongan, Kuningan Cirebon, Tangerang, Palembang dan Jakarta. Dari Al Anggawi ini akan banyak menurunkan cabang keluarga yang banyak terdapat di Madinah, Mesir,
9. Keluarga Fam Al Manashir : Keturunan dari syarif Idris bin Jarullah bin Hasan bin Jarullah bin Hasan bin Mansur bin Husin bin Mansur bin Jarullah bin Muhammad bin Angga.
10. Keluarga Fam Al Azuz : banyak terdapat di Sulawesi Selatan
11. Keluarga Fam Al Dahlan Al Jailani : keturunannya pernah menjadi Imam Masjidil Haram sebelum perang dunia ke II. Keturunannya banyak terdapat di Cianjur.
12. Keluarga Fam Al Idris Al Hasani : Banyak di Maroko.
13. Keluarga Fam Al Jilani : Keturunan dari Al Quthub Al Kabir Syekh Muhammad Muhyidin Abdul Qodir Jaelani bin Abi Saleh Musa bin Abdullah bin Yahya Az-Zahid bin Muhammad bin Daud bin Musa Atsani bin Abdullah bin Musa Al Jun bin Abdullah Al Mahdi bin Hasan Mutsanna bin Hasan binti Fatimah binti Muhammad Rasulullah SAW. Terdapat di Pekalongan. Informasi lain yang kami perolah di wilayah Jambi dan sebagian jawa barat juga terdapat keturunan beliau.
14. Keluarga Fam Al Mashur Al Hasani : banyak terdapat di Indonesia Timur seperti Palu dan Gorontalo.
15. Keluarga Fam Al Muthohar Al Hasani : Banyak terdapat di Medan Sumatra Utara.
16. Keluarga Fam Al Qadiri Al Jilani : Keturunan dari Al Quthub Al Kabir Syekh Muhammad Muhyidin Abdul Qodir Jaelani bin Abi Saleh Musa bin Abdullah bin Yahya Az-Zahid bin Muhammad bin Daud bin Musa Atsani bin Abdullah bin Musa Al Jun bin Abdullah Al Mahdi bin Hasan Mutsanna bin Hasan binti Fatimah binti Muhammad Rasulullah SAW. Terdapat di Irak, Syiria, Magribi (Maroko), Pasuruan.
17. Keluarga Fam Azzawawi : Banyak di Makkah
18. Keluarga Fam Barakwan : Banyak terdapat di Sumenep dan Jakarta
19. Keluarga Fam Bin Syua’ib : Banyak terdapat di Tegal, Purwakarta, dan Jakarta.
20. Keluarga Fam Taba Taba’i : Banyak terdapat di Pasuruan, Aceh, Palembang, Medan dan Jakarta.
21. Keluarga Fam Al Hasani (Yusuf bin Abid) : Nasabnya adalah Yusuf bin Abid bin Muhammad bin Umar bin Ibrahim bin Umar bin Isa Abu Wakil Maimun bin Isa bin Musa bin Azuz bin Abdul Aziz bin Allal bin Jabir bin Ayadh bin Qasim bin Ahmad bin Muhammad bin Idris bin Idrus bin Abdullah Al Kamil bin Hasan Al Mutsanna bin Hasan binti Fatimah binti Muhammad Rasulullah SAW. Mereka banyak tinggal di Sewun Hadramaut sedangkan di Indonesia mereka banyak terdapat di Gorontalo.
22. Keluarga Fam Al Magribi Al Hasani : Al Magribi Al Hasani berasal dari Sayyid Muhammad Darghust Al-Hasani Al-Idrisi yang tinggal di kota Darghust Tunisia. Kakek mereka yang pertama bernama Syekh Ahmad Al-Maghribi Al-Hasani bin Muhammad (Mufti Tunisia) bin Umar bin Muhammad, di mana keturunannya banyak tinggal di Tarables Siria.
23. Keluarga Fam Atthoyyib : Salah satu keturunan beliau yang bernama Sayyid Muhammad bin Ali bin Abdullah Atthoyyib Al Magribi Al Hasani dimakamkan di Kramat Empang Bogor Jawa Barat berdekatan dengan makam-makam para Habib yang diantaranya Sayyidiul Al Habib Abdurrahman Assegaf Bukit Duri (Pendiri Madrasah Tsaqofah Islamiah Bukit Duri Tebet Jakarta Selatan). Nama Thoyyib sendiri diambil dari nama Sayyid Thoyyib Sufyan Al Magribi Al Hasani. Sayyid Thoyyib adalah sahabat Sayyid Ahmad bin Muhammad Attijani (pelopor thoriqoh Tijaniyah)
24. Keluarga Syekh Mahfud Al Hasani : Banyak terdapat di Somalangu Kebumen : Nasabnya adalah, Sayyid Mahfudz bin Sayyid Abdurrahman bin Sayyid Ibrahim (Syekh Abdul Kahfi Tsani) bin Muhammad bin Zaenal Abidin bin Yusuf bin Hanan bin Zakaria bin Abdul Manan bin Hasan bin Yusuf bin Jawahir bin Muhtarom bin Syekh Sayyid Abdul Kahfi Al awal Al Hasani (Sayyid Ishom) Al Hasani.
25. Keluarga Fam Ar-Rifai
26. Keluarga Fam Al Taqwi
27. Keluarga Fam Al Qudsi : Berasal dari keturunan Syaikh Abi Abdillah Al-Husein yang dikenal dengan Al-Qudhoib Al ban Al-Maushuli, dimana nasabnya bersambung kepada Al-Ridha bin Musa Al Jun bin Abdullah Al-Mahdi bin Hasan al-Mutsanna bin Hasan binti Fatimah.
28. Keluarga Al Mahdali
29. Keluarga Al Balakhi

Sebenarnya dari 29 fam yang yang telah kami tuliskan ini masih banyak fam dari keturunan Sayyidina Hasan ini yang menyebar ke seluruh dunia, jumlah mereka tidak jauh berbeda dengan Fan-fam keturunan Sayyidina Husein RA, hanya karena keterbatasan Al Faqir, baru inilah yang bisa kami berikan, Insya Allah lain waktu jika kami sudah mendapatkan rujukan kitab yang mu’tabar kami akan mencoba kembali meneliti lebih dalam lagi fam-fam pecahan dari Al Hasani ini.

Wallahu A’lam bisshowwab…

Sumber :

1. DR. Abdul Majid Hasan Bahafdullah. Dari Nabi Nuh Sampai Orang Hadramaut Di Indonesia-Menelusuri Asal Usul Hadarim, Jakarta : Bania Publishing, Juni 2010,
2. Sayyidi Idrus Al Al Mashur. Sejarah, Silsilah, & Gelar Keturunan Nabi Muhammad SAW Di Indonesia, Singapura, Malaysia, Timur Tengah, India dan Afrika, Jakarta : Sara Publshing, 2010.
3. (Tun) Suzana (Tun) Hj Othman, HJ Muzzaffar Dato Hj Mohammad. Ahlul Bait (Keluarga) Rasulullah SAW & Kesultanan Melayu, Malaysia : Crescent News (K.L), 2006.
4. Yayasan Pondok Pesantren Al Kahfi Somalangu. Bulletin Al Kahfi, Kebumen: Pondok Pesantren Al Kahfi, 2004.
5. Iwan Mahmud Al Fattah, Monogram Ahlul Bait, Jakarta : Madawis, 2014.

Iwan Mahmoed Al Fattah II

Catatan : Bila terdapat tulisan yang perlu dikoreksi atau ditambahkan maka Al faqir akan dengan senang hati menerimanya…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here