PUISI DI KOLONG MEJA

Ada lirih. Puisi Setya mengalir. Senandung sepi. Sendiri. Merintih perih. Setya bukan sastra. Dia pesakitan. Sedih. Gelap. Bagaikan Jeritan Hati seorang bandit. Dia yang ditinggalkan. Dibiarkan menjadi korban.

Pedih. Setya bercerita. Bahasa puisi. Tentang skandal hitam. Debu-debu. Di kamar-kamar tertutup. Gelap. Di kolong-kolong meja.

Sebuah skandal mega korupsi ektp. Setya tidak rela. Korupsi berjema’ah, nikmati hasil curian rame-rame. Dia ngga mau dipenjara sendiri. Ada biang dari semua aktor utama. Tak tersentuh. Dibiarkan.

Setelah bait-bait awal tersamar kisah korupsi, Setya kembali narsis. Dia melukiskan dirinya. Seorang anak. Gigih. Perjuangan hidupnya. Berusaha keras. Tepis segala malu. Hingga nyata meraih puncak karir sebagai Ketua DPR-RI.

Di bagian akhir, Setya mengancam. Dia berkata, “Kolong meja siap membelah, menerkam tanpa bertanya”.

Mungkin, dia ogah kompromi. Semua nama yang dia sebut, enggan mengaku. Malah balik menyerang. Menyatakan Setya bohong. Senyum Setya menyiratkan makna, dia tau semua intrik.

Puisi sedih itu ditutup dengan untaian mutiara kutukan. Setya sebut teman-temannya sebagai pecundang. Mereka sembunyi. Topeng-topeng kebohongan. Mereka cuci tangan. Bertingkah sok suci. Padahal korupsi. Kata Setya, mereka banci.

Publik tidak tau siapa yang dimaksud Setya. Dia sebut sederet nama; Olly, Tamsil, Mekeng, dan tentu saja, Ganjar Pranowo.

THE END

By : Zeng Wei Jian

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here