Yusuf Hamka, seorang mualaf keturunan China ini sempat mencuri perhatian publik karena kebaikan hatinya. Diketahui Yusuf adalah pemilik Warung Nasi Kuning Podjok Halal di Jakarta Utara yang diperuntukkan untuk fakir miskin dan duafa. Kini Warung Podjok Halal sudah memiliki empat cabang yang tersebar di DKI Jakarta.

Tak cuma disitu, kegemaran berbagi Yusuf juga disalurkan melalui pembangunan musala di kolong Tol Ir Wiyoto-Wiyono yang berada di ruas jalan Warakas Gang 21, Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Berawal dari keprihatinan 

Yusuf dengan kondisi perekonomian warga sekitar kolong tol, ia lantas berpikir untuk membangun musala bergaya China. Namun begitu, Yusuf membantah bila musala yang didominasi warna hijau dan merah ia bangun lantaran dirinya mualaf keturunan Tionghoa.

“Bukan karena saya mualaf dan bukan karena saya ingin memamerkan bahwa ini orang Tionghoa, bukan. Yang saya mau satu, bahwa tidak ada kebenaran yang mengatakan bahwa orang China anti-Islam karena di China sendiri banyak sekali masjid, bahkan mereka jauh lebih fanatik,” ujar Yusuf.

Yusuf Hamka menjelaskan agar masyarakat jangan sampai diadu domba menggunakan agama.

“Jadi jangan mau diadu-aduin lagi, sehingga kebhinekaan kita ini terajut, kebersamaan ini tetap terjaga,” lanjut Yusuf.

Alasan lain Yusuf membangun musala bertema China ialah karena unik, sekaligus ingin menjadikannya sebagai tempat wisata sehingga dapat mengangkat perekonomian warga sekitar.

“Dengan adanya tujuan wisata, akan ada orang jual makanan, akan ada yang jual minuman, cendera mata khas Betawi segala macam dan ada tempat parkir. Anak-anak yang enggak kerja bisa mengurus parkir, membuat cendera mata semua bisa jadi pekerjaan. Itulah hal positif yg harus kitaa berikan,” kata Yusuf.

Yusuf mengaku keinginannya membuat musala ini bukan untuk mencari popularitas.

“Dan saya memang bukan untuk cari popularitas. kalau cari populer ya saya bangun masjid di kota. Saya bukan sok-sokan karena ingin membantu saudara kita di desa setempat yang ekonominya agak kurang,” ujar Yusuf.

Jauh sebelum musala ini dibangun, tahun 2013, Yusuf beserta 20 arsitek lainnya terbang ke China untuk melakukan studi banding soal arsitektur khas China. Meski begitu, Yusuf baru bisa merealisasikannya di tahun 2018 karena terhambat perizinan mendirikan bangunan.

Yusuf mengatakan, dirinya mengeluarkan dana sekitar Rp 5 miliar untuk pembangunan musala di kolong tol tersebut. Setelah Warung Podjok Halal dan musala di kolong tol, Yusuf berencana akan membangun musala di Taman Lembang dengan arsitektur yang sama.

“Ada. Saya diminta oleh seorang tokoh masyarakat untuk bangun musala di Taman Lembang dengan gaya arsitektur Chinese. Karena menurut orang sana, banyak pengunjung yang enggak bisa salat,” lanjut Yusuf.

Pria yang menjadi mualaf sejak tahun 1981 ini berharap masyarakat yang diberikan kesempatan bisa membangun musala, agar memperhatikan tujuan wisatanya juga sehingga bisa mengangkat perekonomian masyarakat.

“Saya rasa masyarakat harus bersama-sama memikirkan bukan hanya membuat tempat ibadah tapi juga memberikan manfaat. Itu yang penting. Jadi tujuan wisata sehingga bisa mengangkat perekonomian desa dan rakyatnya pasti juga ikut makmur,” lanjut Yusuf.

Selain itu Yusuf juga berharap pemerintah bisa meniru langkahnya yang memanfaatkan lokasi-lokasi terbengkalai dan kumuh disulap menjadi bersih dan memberikan dampak positif bagi masyarakat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here