Wisata Religi Ke Provinsi Banten Kampung Patengahan

Makam Pangeran Kawisa Adimerta alias Pangeran Panengahan alias Ki Buyut Tengah alias Pangeran Ratu Jayakarta ke 4 alias Pangeran Wijayakrama 3

Kisah Hidupnya Penuh dengan Kejutan

Berawal dari penguasa Jayakarta kemudian akhirnya diasingkan di sebuah tempat yang cukup sunyi dan jauh dari keramaian. Kalau saat ini daerah yang sekarang masih belum begitu padat penduduknya bagaimana pula pada masa tahun 1619 Masehi ?

Namanya tertulis didalam kitab Al Fatawi sebagai Pangeran Ratu Jayakarta ke 4 dan Pangeran Wijayakrama 3. Sosoknya pernah diteliti secara serius dan mendalam oleh Prof. Dr. Uka Tjandrasasmita.

Adapun susunan atau urutan Pangeran Jayakarta yang tercatat didalam Kitab Al Fatawi adalah sbb :

1. Maulana Hasanuddin Banten (Pangeran Ratu Jayakarta 1), kelak mendirikan Kesultanan Banten.

2. Pangeran Wijayakusuma bin Fattahillah (Pangeran Ratu Jayakarta 2) mendapat gelar pemimpin administrasi pemerintahan jayakarta yaitu PANGERAN WIJAYAKRAMA 1.

3. Pangeran Ahmad Jayawikarta bin Pangeran Sungereksa Jayawikarta (Pangeran Ratu Jayakarta 3) bergelar PANGERAN WIJAYAKRAMA 2. Dijuluki oleh fihak asing dengan nama “Regent Of Jacatra”. Kelak beliau mendiirikan benteng pertahanan di Jatinegara Kaum.

4. Pangeran Kawisa Adi Merta (Pangeran Ratu Jayakarta 4) mendapat gelar PANGERAN WIJAYAKRAMA 3.

5. Dst…

Beberapa bulan sebelum Jan Pieterzoon Coen masuk ke benteng Jayakarta, beliau sudah keburu diasingkan ke Banten dengan pengawalan ketat. Diasingkannya beliau ini karena telah terjadi kesalahfahaman politik. Akibat diasingkannya beliau maka tampuk kekuasaan Jayakarta menjadi lowong, sehingga pada saat JP COEN Laknatullah masuk ke benteng jayakarta, pemerintahan sudah tidak efektif dikarenakan vakumnya kekuasaan, ditambah lagi pasukan Banten yang diharapkan tiba untuk membantu perjuangan belum kunjung datang karena mereka sedang dilanda kelelahan hebat karena habis bertempur mati-matian melawan agresor penjajah, oleh karena itu atas kesepakatan bersama dan demi menyelamatkan penduduk Jayakarta serta keluarga besarnya, benteng dan bangunan Jayakarta akhirnya dibakar menjadi lautan api oleh seluruh mujahid Jayakarta.

Setelah pembakaran ini maka seluruh mujahid dan juga penduduk Jayakarta kemudian menyebar dan masuk ke pedalaman-pedalaman wilayah untuk melakukan konsolidasi serta juga melakukan dakwah Islamiah. JP Coen tidak pernah membakar kraton ataupun benteng jayakarta, semua justru dilakukan oleh para mujahid. Dengan adanya lautan api telah menutup jarak pandamg musuh dan itu telah memudahkan evakuasi secara besar-besaran dari keluarga besar Jayakarta ke wilayah pedalaman timur, barat dan selatan. Riwayat ini tentu akan bertentangan dengan versi penjajah kafir VOC atau jurnalis asing yang menyatakan seolah-olah ada perang.

Tentu semua strategi itu tidak lepas dari andil dari Pangeran Ratu Jayakarta ke 4 ini. Sekalipun beliau diasingkan oleh bangsanya sendiri karena kesalahfahaman politik, beliau masih mempunyai pengaruh yang kuat bagi rakyat Jayakarta. Sehingga tidak mengherankan sekalipun diasingkan semangat jihad Sang Mujahid sejati ini terus membara.

Perjuangan bawah tanahnya kelak masih terus dikumandangkan oleh keturunannya yang berada di Masjid Angke, Masjid Al Mansuriah Jembatan Lima, Kampung Gusti Jelambar dan juga wilayah Jipang Pulorogo (Slipi dan sekitarnya).

Di Banten sendiri sosoknya sangat dihormati karena perannya yang mampu menjadi penengah saat terjadi kesalahfahaman politik antar keluarga kesultanan…

Al Fatehah untuk Pangeran Ratu Jayakarta 4… (Iwan Mahmoed Al Fattah II)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here